RANGKUMAN KELOMPOK 9

1. Persediaan

     Persediaan (Inventory), merupakan aktiva perusahaan yang menempati posisi yang cukup penting dalam suatu perusahaan, baik itu perusahaan dagang maupun perusahaan industri (manufaktur), apalagi perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi, hampir 50% dana perusahaan akan tertanam dalam persediaan yaitu untuk membeli bahan-bahan bangunan. Persediaan adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam membuat barang yang akan dijual.

     Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan hal yang sangat penting karena baik laporan Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan dapat disusun tanpa mengetahui nilai persediaan. Kesalahan dalam penilaian persediaan akan langsung berakibat kesalahan dalam laporan Rugi/Laba maupun neraca.

Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan (awal & akhir) mempengaruhi besarnya Harga Pokok Penjualan (HPP).

HPP  =  PERSEDIAAN AWAL +  PEMBELIAN BERSIH  – PERSEDIAAN AKHIR


a.  Inventory perusahaan Dagang
   Persediaan merupakan barang-barang yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk dijual kembali dengan tanpa mengubah bentuk dan kualitas barang, atau dapat dikatakan tidak ada proses produksi sejak barang dibeli sampai dijual kembali oleh perusahaan.

b. Inventory perusahaan Industry
   Pengertian persediaan untuk perusahaan industri adalah barang-barang atau bahan yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk diproses lebih lanjut menjadi barang jadi atau setengah jadi atau mungkin menjadi bahan baku bagi perusahaan lain, hal ini tergantung dari jenis dan proses usaha utama perusahaan.
Misalnya : Perusahaan industri permintaan kapas, bahan bakunya adalah kapas dari petani atau perkebunan, diolah menjadi benang, benang merupakan barang jadi baginya. Sedangkan perusahaan industri kain bahan bakunya adalah benang yang diolah menjadi kain sebagai barang jadi, dan perusahaan industri pakaian jadi membutuhkan bahan baku kain dan seterusnya.

Dengan gambaran diatas maka persediaan untuk perusahaan-perusahaan manufaktur pada umumnya mempunyai tiga jenis persediaan yaitu :
1.         Bahan baku (direct material)
2.         Barang dalam proses ( Work in proses)
3.         Barang jadi (Finished goods)

2.  Jenis - Jenis Persediaan

a  . Bahan baku
   Barang persediaan milik perusahaan yang akan diolah lagi melalui proses produksi, sehingga akan menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sesuai dengan kegiatan perusahaan. Besarnya persediaan bahan baku dipengaruhi oleh perkiraan produksi, sifat musiman produksi, dapat diandalkannya pihak Pemasok serta tingkat efisiensi penjadualan pembelian dan kegiatan produksi.

b .   Barang dalam proses
   Adalah barang yang masih memerlukan proses produksi untuk menjadi barang jadi, sehingga persediaan barang dalam proses sangat dipengaruhi oleh lamanya produksi, yaitu waktu yang dibutuhkan sejak saat bahan baku masuk keproses produksi sampai dengan saat penyelesaian barang jadi. Perputaran persediaan bisa ditingkatkan dengan jalan memperpendek lamanya produksi. Dalam rangka memperpendek waktu produksi salah satu cara adalah dengan menyempurnakan tekhnik-tekhnik rekayasa, sehingga dengan demikian proses pengolahan bisa dipercepat. Cara laian adalah dengan membeli bahan-bahan dan bukan membuatnya sendiri.

c  .  Barang jadi
   Adalah barang hasil proses produksi dalam bentuk final sehingga dapat segera dijual, pada persediaan ini besar kecilnya persediaan barang jadi sebenarnya merupakan masalah koordinasi produksi dan penjualan. Manajer keuangan dapat merangsang peningkatan penjualan dengan cara mengubah persyaratan kredit atau dengan memberikan kredit untuk resiko yang kecil (marginal risk). Tetapi tidak peduli apakah barang-barang tercatat sebagai persediaan atau sebagai piutang dagang, manajer keuangan harus tetap membiayainya. Sebenarnya perusahaan lebih suka menjualnya (dan tercatat sebagai piutang dagang), karena dengan demikian untuk menuju realisasi kas tinggal satu langkah saja. Dan laba potensial dapat menutup tambahan resiko penagihan piutang.

Dari uraian tersebut dapat kita artikan bahwa dalam proses akuntansi persediaan, persediaan memerlukan adanya penilaian (valuation), karena persediaan merupakan bagian dari cost yang akan dimatch dengan revenue, dan akan menghasilkan income dan penyajian laporan arus kas. Dengan melihat sifat-sifat dasar persediaan dalam hubungannya dengan kegiatan perusahaan dan tujuan serta konsep dasar akuntansi, maka persediaan merupakan input values. Metode tersebut merupakan salah astu konsep penilaian terhadap inventory yang akan menjadi dasar dalam penyajian di neraca.


3. Tujuan Penilaian Inventory

Pertama adalah dalam upayanya untuk mematch cost terhadap revenue yang berkaitan, sehingga dihasilkan income, proses ini merupakan tujuan dasar akuntansi tradisional.
Tujuan kedua pengukuran inventory lainnya adalah untuk menyajikan nilai barang-barang perusahaan didalam komponen neraca (laporan keuangan).
Tujuan ketiga pengukuran inventory adalah membantu investor untuk memprediksi arus kas dikemudian hari, yaitu dipandang dari jumlah inventory sebagai resources yang akan mendukung arus kas dan jumlah inventory yang akan dijual kemudian hari dan akan mempengaruhi arus kas keluar.

4. Penentuan Kuantitas Persediaan

Untuk menentukan jumlah barang yang masih dikuasai oleh perusahaan pada suatu saat dapat ditentukan melalui beberapa cara yaitu :
  1. Stock opname: perhitungan barang pada awal dan akhir periode yang dihitung, cara ini merupakan ketentuan yang harus dilakukan oleh manajemen untuk menentukan jumlah persediaan akhir, sebagai salah satu persyaratan memperoleh unqualified opinion.
  2. Menggunakan metode pencatatan perpetual.
  3. Menggunakan metode gabungan antara metode pencatatan perpetual dengan stock opname.
  4. Menggunakan metode penilaian berdasarkan hubungan agregatif, yaitu gross profit method dan realized inventory method.
Penyajian laporan laba rugi dapat dibuat dalam dua bentuk, yaitu all inclusive concept of income (AICI) dan current operating concept of income (COCI). Dari kedua metode tersebut metode penyajian yang banyak mengandung kelemahan untuk penyajian persediaan adalah AICI, kelemahan - kelemahan tersebut dapat kita lihat sbb :

a.     Metode stock opname atau periodic method
   Persediaan yang merupakan komponen cost of goods sold (CGS) maka perhitungan kuantitas persediaan yang dilakukan dengan stock opname tergantung dari kelengkapan data/catatan dan perhitungan barang. Dengan cara ini perhitungan persediaan yang dibebankan pada CGS ada kemungkinan overstatement, karena hanya membandingkan dan menghitung jumlah barang yang dimiliki dikurangi dengan persediaan akhir. Sehingga kalau terjadi adanya barang yang hilang, rusak, menguap, turun kualitasnya dsb, maka hal ini bila tidak terungkap akan menyebabkan laporan laba – rugi tidak atau kurang informative. Karena adanya kerugian-kerugian yang seharusnya diperlukan sebagai kerugian extraordinary item, kemudian dengan perhitungan stock opname secara berkala tidaklah cukup sebagai dasar pembuatan keputusan yang bersifat manajerial secara cepat.

b.     Metode perpetual
   Dalam metode perpetual ini terdapat kelemahan pada saat menentukan nilai dan jumlah barang, karena dengan metode pencatatan yang kontinyu ini berarti saldo persediaan setiap saat dapat diketahui, namun perlu diperhatikan bahwa dengan hanya menghitung jumlah barang bedasarkan catatan akan mengakibatkan nilai persediaan overstatement, karena adanya persediaan yang rusak dsb. Oleh karena itu yang lebih tepat dalam menentukan jumlah inventory adalah kalau menggunakan metode gabungan antara metode perpetual dengan stock opnam. 

.c.     Metode agregatif
   Dalam metode ini kesulitannya sama dengan kesulitan yang dialami metode perpetual, kalau dalam hal pembahasannya adalah masalah penentuan harga persediaan. Dalam metode ini juga lebih tepat kalau penentuan jumlah dan nilai persediaan dikombinasi dengan stock opname.

5. Masalah Mendasar Dalam Menilai Persediaan

Biaya barang yang tersedia untuk dijual atau digunakan adalah jumlah dari biaya barang yang ada di tangan awal periode dan biaya barang yang dibeli atau diproduksi selama periode berjalan. Harga pokok penjualan adalah perbedaan antara biaya barang yang tersedia untuk dijual selama periode berjalan dan biaya barang yang ada di tangan pada akhir periode. Penilaian persediaan bisa menjadi proses kompleks yang memerlukan penentuan atas :

1. Barang fisik yang dimasukkan dalam persediaan

·            Barang dalam Perjalanan
Akuntansi pada barang ini tergantung pada siapa yang memiliki barang. Jika barang dikirimkan atas dasar f.o.b shipping point, makan hak kepemilikan berpindah ke pembeli ketika penjual menyerahkan barang kepada perusahaan pengangkut, yang bertindak sebagai pembeli. Jika barang dikirimkan atas dasar f.o.b destination,maka hak kepemilikan belum berpindah sampai pembeli menerima barang dari perusahaan pengangkut.

·            Barang konsinyasi
Persediaan yang telah di konsinyasikan ditunjukkan sebagai pos terpisah, tetapi kecuali jumlahnya besar, hal ini tidak diperlukan. Kadang kala persediaan yang telah dikonsinyasikan dilaporkan dalam catatan atas atas laporan keuangan. Pihak – pihak yang terlibat dalam penjualan konsinyasi :
a.          Pengamat (consignor) adalah pihak pemilik barang, sedangkan transaksi pengiriman barang dari pemilik ke pihak komisioner disebut barang konsinyasi.
b.          Komisioner (consignee) yaitu pihak penerima barang dari pemilik barang, sedangkan transaksi penerimaan barang dari pemilik ke pisah komisioner disebut barang komisi.
·            Perjanjian Penjualan Khusus
Tiga situasi penjualan khusus yang di dapatkan di dunia praktik, yaitu penjualan dengan perjanjian beli kembali, penjualan dengan tingkat retur yang tinggi, penjualan cicilan.
·            Pengaruh kesalahan persediaan
Pengaruh kesalahan persediaan, biasanya terjadi dengan dua kasus salah saji persediaan akhir dan salah saji pembelian dan persediaan. 

6. Biaya – Biaya Yang Harus Dimasukkan Dalam Persediaan

Salah satu masalah paling penting dalam menangani persediaan berhubungan dengan berapa jumlah persediaan yang harus dicatat dalam akun. Pembelian (akuisisi) persediaan, seperti aktiva lain, umumnya diperhitungkan atas dasar biaya.

• Biaya Produk
Biaya produk (product costs) adalah biaya-biaya yang “melekat” pada persediaan dan dicatat dalam akun persediaan.
• Biaya Periode
Biaya periode (period costs) merupakan biaya-biaya yang terkait secara tidak langsung dengan akuisisi atau produksi barang.
• Biaya manufaktur
Biaya overhead manufaktur meliputi bahan tidak langsung,tenaga kerja tidak langsung dan pos-pos seperti penyusutan, pajak, asuransi, pemanas, dan listrik yang dibutuhkan dalam proses manufaktur.
• Perlakuan atas Diskon Pembelian
Pemakaian akun Diskon Pembelian (purchase discount) dalam sistem persediaan periodik menunjukkan bahwa perusahaan melaporkan pembelian dan utang usaha pada jumlah kotor.

Selama setiap periode fiskal tertentu, besar kemungkinan suatu barang akan dibeli dengan beberapa harga berbeda. Secara konseptual, identifikasi khusus atas pos-pos yang terjual dan pos-pos yang belum terjual terlihat optimal, tetapi cara ini seringkali tidak hanya mahal tetapi juga tidak mungkin untuk diterapkan. Sebagai akibatnya, beberapa asumsi arus biaya (cost flow asumption) yang bersifat sistematis dapat digunakan. Sebetulnya, arus fisik barang aktual dan asumsi arus biaya seringkali sangat berbeda. Tidak ada keharusan bahwa asumsi arus biaya yang dipakai terus konsisten dengan pergerakan fisik barang. Tujuan utama dari pemilihan asumsi arus biaya adalah untuk memilih asumsi yang paling mencerminkan laba periodik, sesuai kondisi yang berlaku.
a.    Identifikasi Khusus
Identifikasi khusus (specific identification) digunakan dengan cara mengidentifikasi setiap barang yang dijual dan setiap barang dalam pos persediaan. Biaya barang-barang yang telah terjual dimasukkan dalam harga pokok penjualan, sementara biaya barang-barang khusus yang masih berada di tangan dimasukkan pada persediaan. Metode ini hanya bisa digunakan dalam kondisi yang memungkinkan perusahaan memisahkan pembelian yang berbeda yang telah dilakukan secara fisik. Dalam industri ritel hal ini meliputi beberapa jenis perhiasan, jas bulu, mobil dan sejumlah furnitur.
b.    Biaya Rata-rata
Seperti tersirat dalam namanya, metode biaya rata-rata (average cost method) menghitung harga pos-pos yang terdapat dalam persediaan atas dasar biaya rata-rata barang yang sama yang tersedia selama suatu periode. Metode biaya rata-rata yang lain adalah metode rata-rata bergerak (moving average method) yang digunakan dalam system persediaan perpetual.
c.   First-In, First-Out (FIFO)
Metode FIFO mengasumsikan bahwa barang-barang digunakan (dikeluarkan) sesuai urutan pembeliannya. Dengan kata lain, metode ini mengasumsikan bahwa barang pertama yang dibeli adalah barang pertama yang digunakan (dalam perusahaan manufaktur) atau dijual (dalam perusahaan dagang). Karena itu, persediaan yang tersisa merupakan barang yang dibeli paling terakhir.                                
d.    Last-In, First-Out (LIFO)
Metode LIFO menandingkan (matches) biaya dari barang-barang yang paling akhir dibeli terhadap pendapatan. Jika yang digunakan adalah persediaan periodic, maka akan diasumsikan bahwa biaya dari total kuantitas yang terjual atau dikeluarkan selama suatu bulan berasal dari pembelian paling akhir.

Contoh Soal



PT. Saburai melakukan perlakuan (pembelian, penjualan) persediaan pada tahun 2018 adalah sebagai berikut.
Diminta :
  1. Hitunglah nilai persediaan akhir Sistem perpetual dengan metode FIFO, LIFO dan Average.
Jawab : 
1. FIFO (masuk pertama keluar pertama)

2. LIFO (masuk terakhir keluar pertama)

3. Rata-rata (average)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RANGKUMAN KELOMPOK 9

RANGKUMAN HASIL KELOMPOK 6